Sebelum kita menuju topik utama, lebih baiknya kita menegetahui dahulu apa
itu Religiusitas dan apa itu Perilaku Sosial.
Berdasarkan istilah religi kemudian
didapatkan istilah religiusitas. Religiusitas banyak diartikan oleh banyak
filsafat, ilmuan, profesor, dan sebagainya. Maka disini saya menyimpulkan apa
itu Religiusitas. Religiusitas
adalah suatu hal yang menyangkut agama dari seseorang atau kepercayaan dari
suatu hal akan adanya Tuhan atau Dewa, yang telah dihayati dalam hati yang
dapat mengatur kehidupan seseorang sesuai dengan tingakatan kepercayaan dengan
agamanya. Dalam agama terdapat aturan-aturan yang mengikat yang harus dilakukan
oleh penganutnya, yang sangat berpengaruh juga dengan Perilaku Sosialnya.
Perilaku
sosial adalah
perilaku yang secara khusus ditujukan kepada orang lain. Referensi lain
menyebutkan bahwa perilaku sosial merupakan apa yang dilakukan oleh seseorang
dan situasinya. Dimaksudkan
disini adalah setiap manusia akan bertindak dengan cara yang berbeda dalam
situasi yang salam, setiap perilaku seseorang merefleksikan kumpulan sifat unik
yang dibawanya ke dalam suasana tertentu yaitu perilaku yang di tunjukkan
seseroang ke orang lain.
Menurut
penelitian Kementerian Negara dan Lingkungan Hidup dan dalam penelitian yang
dilakukan oleh Glock dan Stark (Widiyanta, 2005), ada lima dimensi
religiusitas, yang oleh peneliti akan dijadikan aspek-aspek dalam menyusun
skala religiusitas yaitu:
A.
Religious practice (the ritualistic dimension) / Aspek Islam
Tingkatan
sejauh mana seseorang mengerjakan kewajiban ritual di dalam agamanya, seperti
shalat, zakat, puasa, haji, dan sebagainya.
B. Religious belief
(the ideological dimension)/Aspek Iman
Sejauh
mana orang menerima hal-hal yang dogmatik di dalam ajaran agamanya. Misalnya
kepercayaan tentang adanya Tuhan, malaikat, kitab-kitab, Nabi dan Rasul, hari
kiamat, surga, neraka, dan yang lain-lain yang bersifat dogmatik.
C. Religious
knowledge (the intellectual dimension)/Aspek ilmu
Seberapa
jauh seseorang mengetahui tentang ajaran agamanya. Hal ini berhubungan dengan
aktivitas seseorang untuk mengetahui ajaran-ajaran dalam agamanya.
D. Religious feeling
(the experiental dimension)/Aspek Ikhsan
Dimensi
yang terdiri dari perasaan-perasaan dan pengalaman-pengalaman keagamaan yang
pernah dirasakan dan dialami. Misalnya seseorang merasa dekat dengan Tuhan,
seseorang merasa takut berbuat dosa, seseorang merasa doanya dikabulkan Tuhan,
dan sebagainya.
E. Religious effect
(the consequential dimension)/Aspek Amal
Dimensi
yang mengukur sejauh mana perilaku seseorang dimotivasikan oleh ajaran agamanya
di dalam kehidupannya. Misalnya ikut dalam kegiatan konversasi lingkungan, ikut
melestarikan lingkungan alam dan lain-lain.
Faktor Pembentuk Perilaku sosial salah satunya adalah Agama,
kepercayaan, atau Religiusitas. jadi hubungan dari
Religiusitas dengan Prilaku Sosial itu saling berhubungan satu sama lain dimana
Prilaku sosial dapat terbentuk karna adanya juga hubungan religiusitas dan
begitupun sebaliknya prilaku sosial juga terbentuk karna adanya juga hubungan
religiusitas, Artinya bahwa keharmonisan antar manusia berlangsung dalam
suasana saling mendukung dalam kebersamaan, bisa juga adanya saling menghormati
satu sama lain dan saling menghargai umat yang berbeda agama.
Perilaku Sosial seseorang dapat menjadi buruk bisa juga
tentunya karena kurangnya menghargai dan bertoleransi dengan Agama lain. Agama
itu beragam, beragam aturan, budaya, anjuran, dan sebagainya. Apa yang kita
anggap benar dan baik belum tentu di anggap demikian oleh orang lain juga. Perselisihan
pendapat dan aturan antar umat beragama ini lah yang dapat menimbulkan perilaku
sosial yang kurang baik. Kita dapat
mengambil contoh, ada suatu desa yang harmonis ditinggali oleh berbagai umat
beragama seperti umat Islam, Umat Kristiani, Umat Hindu, Budha dan sebagainya. Ada
suatu ketika ada hari raya Idul Adha yang diadakan oleh Umat Islam yaitu
memotong hewan kurban seperti Kambing, Sapi, Kerbau ataupun Unta. Orang Islam
di desa itu memotong hewan Sapi juga, tetapi hewan Sapi bagi pemeluk agama
Hindu adalah hewan yang sangat suci dan hal yang sangat teramat buruk apabila
membunuhnya. Maka umat Hindu bisa saja perilaku sosialnya berubah menjadi tidak
baik kepada umat Islam karena kurang toleransi dari umat Islam di desa tersebut,
maka bisa timbul perpecahan, permusuhan, bahkan perang ataupun pembantaian
suatu umat beragama.
Maka dari itu toleransi antar beragama sangat lah harus
dilakukan, Toleransi beragama sangatlah bisa dilkakukan. Bisa diambil dari
cerita sebelumnya kita dapat mendapatkan solusi toleransinya dengan cara.Umat
Islam di desa itu pun bisa mengubah hewan kurbanya menjadi Kambing, Kerbau,
ataupun Unta. Dan untuk umat Hindu juga bisa tidak menanggapinya dengan hal
yang sangat serius, Umat Hindu pun sebaiknya mengerti dan menghargai budaya
dari Agama lain juga, memiliki pengertian bahwa hal yang dilakukan oleh umat
agama lain bukan untuk melecehkan agamanya. Banyak contoh toleransi lainya
disekitar kita yang dapat kita lakukan. Hal kecil yang dapat kita lakukan untuk
menghargai agama lain akan besar pengaruhnya juga untuk kita.
Religiusitas yang buruk seperti percaya atau
menganut agama yang sesat yang dapat membawa pengaruh negativ tentunya akan
berpengaruh buruk dengan perilaku sosialnya.
Peranan
sosial agama sebagai faktor integratif bagi masyarakat berarti peran agama
dalam menciptakan suatu ikatan bersama, baik diantara anggota-anggota beberapa
masyarakat maupun dalam kewajiban-kewajiban sosial yang membantu mempersatukan
mereka. Hal ini dikarenakan nilai-nilai yang mendasari sistem-sistem kewajiban
sosial didukung bersama oleh kelompok-kelompok keagamaan sehingga agama
menjamin adanya konsensus dalam masyarakat.
Negara
kita ini, negara Indonesia adalah negara yang penduduknya memeluk agama yang
beragam. Hal ini bisa menjadi hal yang baik dan buruk bagi negara kita. Hal
buruknya adalah penduduk di Indonesia mudah di profokasi, adu domba antar umat
beragama yang dapat menimbulkan perilaku sosial yang tidak baik atau perpecahan
yang dimanfaatkan oleh negara lain lalu mengakibatkan runtuhnya negara kita ini,
sedangkan salah satu hal baiknya adalah dengan berbeda-beda agama tapi tetap
satu akan menciptakan negara yang kokoh yang sangat sulit digoyah oleh negara lain,
dan dapat juga menarik wisatawan dari mancanegara karena keanekaragaman agama
di Indonesia ini. Mereka merasa aman dan nyaman karena ada tempat beribadah
mereka juga di Indonesia dan tidak adanya konflk antar umat beragama.