Rabu, 16 Desember 2015

BAB 4 Pemuda dan Sosialisasi

BAB 4
PEMUDA dan SOSIALISASI

1.    INTERNALISASI BELAJAR dan SPESIALISASI
Masa remaja adalah masa transisi dan secara psikologis sangat problematis masa ini memungkinkan mereka berada dalam anomi ( keadaan tanpa norma dan hukum ) akibat kontradiksi norma maupun orientasi mendua. Dalam keadaan demikian , seringkali muncul perilaku menyimpang atau kecenderungan melakukan pelanggaran. Kondisi ini juga memungkinkan mereka menjadi sasaran pengaruh media massa.

v ORIENTASI MENDUA
Orientasi mendua menurut Dr. Male adalah orientasi yang bertumpu pada harapan orang tua , masyarakat dan bangsa yang sering bertentangan dengan keterikatan serta loyalitas terhadap teman sebaya apakah itu dilingkungan sekolah atau diluar sekolah.
Sementara itu menurut Zulkarimen Nasution mengutip pendapat ahli komunikasi J. Kapper dalam bukunya The Effect of Mass Comunication mengatakan kondisi bimbang yang dialami para remaja menyebabkan mereka melahap semua informasi tanpa seleksi. Dengan demikian mereka adalah kelompok potensial yang mudah dipengaruhi oleh media sosial apapun bentuknya
Enoch Markum berpendapat agar orang dewasa tidak selalu menaggap setiap youth culture adalah counter culture , remaja harus diberi kesempatan berkembang dan berargumentasi.
Enoch Markum juga melihar perbedaan yang berarti antara remaja dulu dan sekarang. Ini disebabkan muculnya fungsi-fungsi baru dalam masyarakat yang dulu tidak ada.
Ia menawarkan dua alternative pemecahan masalah :
§  Mengaktifkan kembali fungsi keluarga dan kembali pada pendidikan agama karena hanya agama yang bisa memberikan pegangan yang mantap
§  Menegakkan hokum akan berpengaruh besar bagi remaja dalam proses pengukuhan identitas dirinya.

v PERANAN MEDIA MASSA
Menurut Zulkarimen Nasution semakin permisifnya masyarakat juga tercermin pada isi media yang beredar.  Sementara masa remaja merupakan periode peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa , ditandai beberapa ciri :
§  Keinginan memenuhi dan menyatakan identitas diri
§  Kemampuan melepas diri dari ketergantungan orang tua
§  Kebutuhan memperoleh akseptabilitas di tengah sesama remaja
Ciri-ciri ini menyebabkan kecenderungan remaja melahap begitu saja arus informasi yang serasi dengan selera dan keinginan mereka. Orang tetua yang tadinya berfungsi sebagai penapis atau pemberi rekomendasi kini tidak berfungsi sebagai sediakala. Jalan keluarnya yaitu:
§  melihat perlunya membekali remaja dengan keterampilan berinformasi yang mencakup kemampuan menemukan
§  memilih
§  menggunakan dan mengevaluasi informasi
§  intervensi ke dalam lingkungan informasi mereka secara interpersonal
§  bimbingan orang tua dalam mengkonsumsi media massa
§  komunikator massa memegang teguh tuntunan kode etik dan tanggung jawab sosial yang diembannya

v PERLU DIKEMBANGKAN
KROR positif merupakan factor pendukung hubungan orang tua dan remaja yang edukatif . sedangkan yang negative merupakan factor yang tidak mendukung karena bersifat destruktifdan koonfrontatif.
Mengembangkan KROR yang positif, menurut Arif Gosita bukan hal yang mudah karena harus menghadapi KROR negative yang terus berkembang , akibat situasi dan kondisi tertentu misalnya perubahan sosial.
 Penghayatan mengenai proses perkembangan bukan sebagai suatu kontinum yang sambung menyambung tetapi fragmentaris , terpecah-pecah dan setiap fragmen mempunyai arti sendiri-sendiri. Pemuda dibedakan dari anak dan orang tua dan masing-masing fragmen itu mewakili nilai sendiri.
Posisi pemuda dalam arah kehidupan itu sendiri. Tafsiran-tafsiran klasik didasarkan pada anggapan bahwa kehidupan mempunyai pola yang banyak sedikitnya. Sudah tentu dan ditentukan oleh mutu pemikiran yang diwakili oleh generasi tua yang bersembunyi dibalik tradisi. Dinamika pemuda tidak dilihat sebagai sebagian dari dinamika atau lebih tepat sebagian dari dinamika wawasan kehidupan.
Hal ini disebabkan oleh suatu anggapan bahwa pemuda tidak mempunyai andil berarti dalam ikut mendukung proses kehidupan bersama dalam masyarakat. Pemuda dianggap sebagai objek dari penerapan pola-pola kehidupan dan bukan sebagai subjek yang mempunyai nilai sendiri.
Di dalam proses identifikasi dengan kelompok sosial serta norma-normanya tidak senantiasa seorang mengidentifikasi dengan kelompok tempat ia sedang menjadi anggota secara resmi, kelompok semacam inidisebut membership-group.

2.    PEMUDA dan IDENTITAS
Pemuda adalah suatu generasi yang dipundaknya terbebani bermacam-macam harapan , terutama dari generasi lainnya. Hal ini dimengerti karena pemuda diharapkan sebagai generasi penerus yang akan melanjutkan perjuangan generasi sebelumnya  , generasi yang harus mengisi dan melangsungkan estafet pembangunan secara terus-menerus, danjuga pada generasi ini mempunyai permasalahan-permasalahan yang sangat bervariasi dimana jika permasalahan ini tidak dapat diatasi secara proporsional maka pemuda akan kehilangan fungsinya sebagai penerus pembangunan.
              Proses sosialisasi generasi muda adalah suatu proses yang sangat menentukan kemampuan diri pemuda untuk menselaraskan diri di tengah-tengah kehidupan masyarakatnya. Pada tahapan pengembangan dan pembinaanya,memlalui proses kematanganya dan belajar pada berbagai media sosialisasi yang ada di masyarakat, seorang pemuda harus mampu menseleksi berbaga kemungkinan yang ada sehingga mampu mengendalikan diri dalam hidupnya di tengah-tengah masyarakat dan tetap mempunyai motivasi sosial yang tinggi.
v Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda
Pola Dasar Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda ditetapkan oleh menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 0323/U/1978 tanggal 28 Oktober 1978. Maksud dari Pola Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda adalah agar semua pihak yang turut serta dan berkepentingan dalam penanganannya benar-benar menggunakan sebagai pendoman sehingga pelaksanannnya dapat terarah , menyeluruh dan terpadu serta dapat mencapai sasaran dan tujuan yang dimaksud.
Pola Dasar Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda disusun berdasarkan :
1)      Landasan Idiil                     : Pancasila
2)      Landasan Konstitusional   : Undang-Undang Dasar 1945
3)      Landasan Strategis             : Garis-garis Besar Haluan Negara
4)      Landasan Historis               : Sumpah Pemuda Tahun 1928 dan Proklamasi
                                               Kemerdekaan 17 Agustus 1945
5)      Landasan Normatif            : Etika , tata nilai dan tradisi luhur yang hidup dalam
                                               Masyarakat.
Motivasi dasar Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda bertumpu pada strategi pencapaian tujuan nasional , seperti telah terkandung di dalam Pembukaan UUD 1945 alinea IV.
Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda menyangkut dua pengertian pokok , yaitu :
§  Generasi muda sebagai objek pembinaan dan pengembangan adalah mereka yang telah memiliki bekal-bekal dan kemampuan serta landasan untuk dapat mandiri dalam keterlibatannya secara fungsional bersama potensi lainnya , guna menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi bangsa dalam rangka kehidupan berbangsa dan bernegara serta pembangunan nasional\
§  Generasi muda sebagai subjek pembinaan dan pengembangan ialah mereka yang masih memerlukan pembinaan dan pengembangan kearah pertumbuhan potensi dan kemampuan-kemampuannya ke tingkat yang optimal dan belum dapat bersikap mandiri yang melibatkan secara fungsional.

b.    Masalah dan Potensi Generasi Muda
1)      Permasalahan Generasi Muda
     Berbagai permasalahan generasi muda yang muncul pada saat ini antara lain:
a.      Menurunnya jiwa idealisme , patriotisme dan nasionalisme di kalangan masyarakat termasuk generasi muda
b.      Kekurang pastian yang dialami oleh generasi muda terhadap masa depannya
c.       Belum seimbangnya antara jumlah generasi muda dengan fasilitas pendidikan yang tersedia , baik yang formal maupun non-formal. Tingginya jumlah putus sekolah yang diakibatkan oleh berbagai sebab yang bukan hanya merugikan generasi muda sendiri, tetapi juga merugikan seluruh bangsa
d.      Kurangnya lapangan kerja atau kesempatan kerja serta tingginya tingkat pengangguran/setengah pengangguran dikalangan generasi muda dan mengakibatkan berkurangnya produktivitas nasional dan memperlambat kecepatan laju perkembangan pembangunan nasional serta dapat menimbulkan berbagai problem sosialnya.
e.      Kekurangan gizi yang dapat menyebabkan hambatan gizi bagi perkembangan kecerdasan dan pertumbuhan badan dikalangan generasi muda , hal tersebut disebabkan oleh rendahnya daya beli dan kurangnya perhatian tentang gizi dan menu makanan seimbang di kalangan masyarakat yang berpenghasilan rendah
f.        Masih banyaknya perkawinan dibawah umur , terutama di kalangan masyarakat daerah pedesaan
g.      Pergaulan bebas yang membahayakan sendi-sendi perkawinan dan kehidupan keluarga
h.      Meningkatnya kenakalan remaja termasuk penyalahgunaan narkotika
i.        Belum adanya peraturan perundangan yang menyangkut generasi muda

Dalam rangka untuk memecahkan permasalahan generasi muda tersebut diatas memerlukan usaha-usaha terpadu, terarah dan berencana dari seluruh potensi nasional dengan melibatkan generasi muda sebagai subjek pembangunan. Organisasi-organisasi pemuda yang telah berjalan baik adalah merupakan potensi yang siap untuk dilibatkan dalam kegiatan pembangunan nasional

2)      Potensi-potensi Generasi Muda
     Potensi-potensi yang terdapat pada generasi muda perlu dikembangkan adalah
a.   Idealisme dan Daya Kritis
Secara sosiologis generasi muda belum mapan dalam tatanan yang ada , maka ia dapat melihat kekurangan-kekurangan didalam tatanan dan secara wajar mampu mencari gagasan baru. Idealisme dan daya kritis senantiasa dilengkapi dengan landasan rasa tanggung jawab yang seimbang
b. Dinamika dan Kreatifitas
Yakni kemampuan dan kesediaan untuk mengadakan perubahan, pembaharuan dan peyempurnaan kekurangan-kekurangan yang ada atau pun mengemukakan gagasan-gagasan/alternative yang baru sama sekali
c. Keberanian Mengambil Resiko
Perubahan dan pembaharuan termasuk pembangunan , mengandung resiko dapat meleset , terhambat atau gagal. Namun mengambil resiko itu adalah perlu dilakukan jika kemajuan ingin diperoleh.
Generasi muda dapat dilibatkan pada usaha-usaha yang mengandung resiko , kesiapan pengetahuan , perhitungan dan keterampilan dari generasi muda akan memberi kualitas yang baik kepada keberanian mengambil resiko
d.  Optimis dan Semangat
Kegagalan tidak menyebabkan generasi muda patah semangat. Optimisme dan semangat yang dimiliki merupakan daya pendorong untuk mecoba maju lagi.
e. Sikap Kemandirian dan Disiplin Murni
Generasi muda memiliki keinginan untuk selalu mandiri dalam sikap dan tindakannya. Sikap kemandirian itu perlu dilengkapi dengan kesadaran disiplin murni pada dirinya agar dengan demikian mereka dapat menyadari batas-batas yang wajar dan memiliki tenggang rasa
f. Terdidik
     Generasi muda secara relatif lebih terpelajar karena lebih terbukanya kesempatan belajar dari grnerasi-generasi pendahulunya.
g.      Keanekaragaman Dalam Persatuan dan Kesatuan
Merupakan cermin dari keanekaragaman masyarakat. Keanekaragaman tersebut dapat merupakan hambatan jika hal itu dihayati secara sempit dan eksklusif tetapi dapat merupakan potensi dinamis dan kreatif jika keanekaragaman itu ditempatkan dalam rangka integrasi nasional yang didasarkan atas semangat dan jiwa Sumpah Pemuda (1928) serta kesamaan semboyan Bhineka Tunggal Ika.
h.      Patriotisme dan Nasionalisme
Pemupukan rasa kebangsaan , kecintaan dan turut serta memiliki bangsa dan negara di kalangan generasi muda perlu lebih digalakkan , dengan tekad dan semangat generasi muda perlu dilibatkan dalam setiap usaha dan pemantapan ketahanan dan pertahanan nasional
i.        Sikap Kesatria
Kemurnian idealisme ,keberanian, semangat pengabdian dan pengorbananserta rasa tanggung jawab sosial yang tinggiadalah unsur-unsur yang perlu dipupuk dan dikembangkan terus menjadi sikap kesatria di kalangan generasi muda Indonesia
j.        Kemampuan Penguasaan Ilmu dan Teknologi
Generasi muda dapat berperan secara berdaya guna dalam rangka pengembangan ilmu dan teknologi bila secara fungsional dapat dikembangkan sebagai transformator dan dinamisator terhadap lingkungannya yang terbelakang dalam ilmu dan pendidikan serta penerapan teknologi , baik yang maju , madya maupun yang sederhana
Sosialisasi adalah proses yang membantu individu melalu belajar dan penyesuaian diri , bagaimana bertindak dan berpikir agar ia dapat berperan dan berfungsi , baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Proses sosialisasi sebenarnya berawal dari keluarga

Tujuan pokok sosialisasi :                            
§  Individu harus diberi ilmu pengetahuan yaitu berupa keterampilan yang akan dibutuhkan bagi kehidupan kelak di masyarakat
§  Individu harus mampu berkomunikasi secara efektif dan mengembangkan kemampuannya
§  Pengendalian fungsi-fungsi organic yang dipelajari melalui latihan-latihan mawas diri yang tepat
§  Bertingkah laku selaras dengan norma atau tata nilai dan kepercayaan pokok yang ada pada lembaga atau kelompok khususnya dan masyarakat umumnya

Faktor lingkungan bagi pemuda dalam proses sosialisasi memegang peranan penting karena didalam proses sosialisasi pemuda terus berlanjut dengan segala imitasi dan identitasnya. Pengalaman demi pengalaman akan diperoleh dari lingkungan disekelilingnya. Lebih-lebih pada masa peralihan dari masa muda menjadi masa dewasa , dimana sering terjadi konflik nilai ,  wadah pembinaan harus bersifat fleksibel , mampu dan mengerti dalam membina pemuda, harus mematikan jiwa mudanya yang penuh dengan fasilitas hidup.
3.    PERGURAN dan PENDIDIKAN
A.    MENGEMBANGKAN POTENSI GENERASI MUDA
Pada kenyataanya negara-negara sedang berkembang masih banyak mendapat kesulitan untuk penyelenggaraan pengembangan tenaga usia muda melalui pendidikan. Sehubungan dengan itu negara-negara sedang berkembang merasakan selalu kekurangan tenaga terampil dalam mengisi lowongan-lowongan pekerjaan tertentu yang meminta tenaga kerja dengan keterampilan khusus.
Bangsa Indonesia untuk mengembangkan poensi tenaga generasi muda agar menjadi inovator-inovator yang memiliki keterampilan dan skill berkualitas tinggi.
Pembinaan sedini mungkin difokuskan kepada angkatan muda pada tingkat SMP/SMA dengan cara penyelenggaraan lomba karya ilmiah tingkat nasional oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Minat generasi muda untuk mengikuti lomba karya ilmiah dari berbagai cabang disiplin ilmu itu ternyata lebih banyak dari perkiraan semula. Setiap tahun peserta lomba karya ilmiah remaja itu semakin bertambah jumlahnya dan dalam usia yang belia itu mereka telah mampu menghasilkan karya-karya ilmiah yang cukup membuat kagum para cendekiawan tua.
Pembinaan dan pengembangan potensi angkata muda pada tingkat perguruan tinggi lebih banyak diarahkan dalam program-program studi dalam berbagai ragam pendidikan formal. Mereka dibina di laboratorium-laboratorium dan pada kesempatan-kesempatan praktek lapangan.
Kaum muda memang betul-betul merupakan suatu sumber bagi pengembangan masyarakat dan bangsa. Oleh karena itu , pembinaan dan perhatian khusus harus diberikan bagi kebutuhan dan pengembangan potensi mereka.

B.    PENDIDIKAN dan PERGURUAN TINGGI
Indonesia demikian pulamenghadapi kenyataan untuk melakukan usaha keras “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Dewasa ini sudah sekitar 80% dari usia Sekolah Dasar (6-12) tahu dapat ditampung oleh fasilitas pendidikan dasar yang ada.Persentase jumlah penduduk yang masih buta diperkirakan sebagai 40%
Tetapi masalah pendidikan bukan saja masalah pendidikan formal, tetapi pendidikan membntuk manusia-manusia membangun. Untuk itu diperlukan kebijaksanaan terarah dan terpadu di dalam menangani masalah pendidikan ini. Rendahnya produktivitas rata-rata penduduk banyaknya jumlah pencari kerja, kurangnya semangat kewiraswataan, merupakan hal-hal yang memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh.
Suatu bangsa akan berhasil dalam pembangunannya secara “self propelling” dan tumbuh menjadi bangsa yang maju apabila telah berhasi memenuhi jumlah dan mutu (termasuk relevansi dengan pembangunan) dalam pendidikan penduduknya.
Tetap masalah pendidikan bukan saja masalah pendidikan formal , tetapi pendidikan membentuk manusia-manusia membangun. Dan untuk itu diperlukan kebijaksanaan terarah dan terpadu didalam menangani masalah pendidikan ini. Rendahnya produktivitas rata-rata penduduk , banyaknya jumlah pencari kerja , kurangnya semangat kewiraswastaan , merupakan hal-hal  yang memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh
Sebagai suatu bangsa yang menetapkan Pancasila sebaga falsafah hidup bangsa dan negara Indonesia , maka pendidikan nasional yang dibutuhkan adalah pendidikan dengan dasar dan dengan tujuan menurut Pancasila. Dalam implementasinya , pendidikan tersebut diarahkan menjadi pendidikan pembangunan , suatu pendidikan yang akan membina ketahanan hidup bangsa baik secara fisik maupun secara ideologis dan mental. Melalui pendidikan itu diharapkan bangsa Indonesia akan mampu membebaskan diri dari belenggu kemiskinan dan keterbelakangan melalu suatu alternative pembangunan yang lebih baik , serta menghargai kemampuan yang antara lain bercirikan perubahan yang berkesinambungan. Bila dibandingkan dengan sector yang lain , sector pendidikan merupakan sector yang paling pesat kemajuannya.
Setidak-tidaknya dua faktor yang dapat kita amati sebagai faktor yang sangat penting dalam pembangunan dewasa ini yaitu semakin banyaknya manusia yang membutuhkan pendidikan dan semakin bervariasinya mutu pendidikan yang diharapkan oleh mereka.
Pembicaraan tentang generasi muda khususnya yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi menjadi penting karena berbagai alesan.
§  Sebagai masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik , mereka memiliki pengetahuan yang luas tentang masyarakatnya , karena adanya kesempatan untuk terlibat didalam pemikiran , pembicaraan serta penelitian tentang berbagai masalah yang ada dalam masyarakat. Kesempatan ini tidak dimiliki pemuda pada umumnya . Oleh karena itu mahasiswa termasuk yang terkemuka didalam memberikan perhartian terhadap masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat secara nasional
§  Sebagai masyarakat yang paling lama duduk dibangku sekolah , maka mahasiswa mendapatkan proses sosialisasi terpanjang secara berencana , dibandingkan dengan pemuda yang lainnya.
§  Mahasiswa yang berasal dari berbagai etnis dan suku bangsa dapat menyatu dalam terjadinya akulturasi sosial dan budaya . Hal ini akan memperkaya khasanah kebudayaannya sehingg mampu  melihat Indonesia secara keseluruhan

§  Sebagai kelompok yang akan memasuki lapisan atas dari susunan kekuasaan , struktur perekonomian dan prestise didalam masyarakat dengan sendirinya merupakan elite di kalangan generasi muda. Umumnya mempunyai latar belakang sosial , ekonomi dan pendidikan lebih baik dari keseluruhan genereasi muda lainnya. Dan jelas bahwa mahasiswa pada umumnya mempunyai pandangan yang lebih luas dan jauh ke depan serta keterampilan berorganisasi yang lebih baik di bandingkan dengan generasi muda lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar