BAB 6
PELAPISAN SOSIAL
dan MASYARAKAT
1. PELAPISAN SOSIAL
A. PENGERTIAN
Masyarakat terbentuk dari individu-individu.
Individu-individu yang terdiri dari berbagai latar belakang tentu akan
membentuk suatu masyarakat hetorogen yang terdiri dari kelompok-kelompok sosial
.
Individu dan masyarakat adalah komplementer dapat kita
lihat dari kenyataan,bahwa :
·
Manusia dipengaruhi
oleh masyarakat demi pembentukan pribadinya;
·
Individu mempengaruhi
masyarakat dan bahkan bisa menyebabkan (berdasarkan pengaruhnya) perubahan
besar masyarakatnya.
Istilah Stratifikasi atau Statification berasal dari
kata STRATA atau STRATUM yang berarti LAPISAN. Karena itu Sosial Stratification
sering diartikan sebagai Pelapisan Masyarakat. Sejumlah Individu yang mempunyai
kedudukan (status) yang sama menurut ukuran masyarakatnya, dikatakan berada
dalam suatu lapisan atau stratum.
Lapisan Masyarakat berarti jenjang status dan peran
yang relatif permanen yang terdapat di dalam sistem sosial (dari kelompok kecil
sampai ke masyarakat) di dalam hal perbedaan hak, pengaruh, dan kekuasaan.
B. PELAPISAN SOSIAL CIRI
TERHADAP KELOMPOK SOSIAL
Di dalam organisasi primitif pun dimana belum mengenal
tulisan, pelapisan masyarakat itu sudah ada. Hal ini terwujud berbagai bentuk
sebagai berikut:
1.
Adanya kelompok berdasarkan jenis kelamindan umur
dengan pembedaan-pembedaan hak dan kewajiban;
2.
Adanya kelompok-kelompok pemimpin suku yang
berpengaruh dan memiliki hak-hak istimewa;
3.
Adanya pemimpin yang saling berpengaruh;
4.
Adanya orang yang dikecilkan di luar perlindungan
hukum(cutlaw men);
5.
Adanya pembagian kerja di dalam suku itu sendiri;
6.
Adanya pembedaan standar ekonomi dalam ketidak samaan ekonomiitu
secara umum.
Di dalam masyarakatpertanian dan khususnya di dalam
masyarakat industri pelapisan itu tampak menyolok mata dan jelas. Didemokrasi-demokrasi
modern tidak dapat mengecualikan adanya hukum-hukum pelapisan masyarakat ,
walaupun di dalam kontinuitasnya menyatakan bahwa “Semua manusia adalah sama”.
Gradasi itu dapat kita lihat misalnya : dari yang kaya sampai yang miskin ,
dari presiden sampai lurah , dari jenderal sampai prajurit dan sebagainya yang
semuanya itu menunjukkan sebagai jenjang-jenjang dan gradasi sosial yang
menunjukkan walaupun didalam sistem demokrasi yang paling mutakhir pun ada
pelapisan masyarakat
C. TERJADINYA PELAPISAN
SOSIAL
§
Terjadi Dengan Sendirinya
Proses ini berjalan sesuai dengan pertumbuhan
masyarakat itu sendiri. oleh karena sifatnya yang tanpa disengaja inilah maka
bentuk lapisan dan dasar daripada pelapisan itu bervariasi menurut tempat ,
waktu dan kebudayaan masyarakat dimana sistem itu berlaku.
Pada pelapisan yang terjadi dengan sendirinya, maka
kedudukan seseorang pada sesuatu strata atau pelapisan adalah secara otomatis ,
misalnya karena usia tua , karena pemilikan kepandaian yang lebih, atau kerabat
pembuka tanah , seseorang yang memiliki bakat seni atau sakti.
§
Terjadi Dengan Disengaja
Sistem pelapisan yang
disusun dengan sengaja ditujukan untuk mengajar tujuan bersama. Di dalam sistem
pelapisan ini ditentukan secara jelas dan tegas adanya wewenang dan kekuasaan
yang diberikan kepada seseorang. Dengan adanya pembagian yang jelas dalam hal
wewenang dan kekuasaan ini maka di dalam organisasi itu terdapat keteraturan
sehingga jelas bagi setiap orang di tempat mana letaknya kekuasaan dan wewenang
yang dimiliki dan dalam suatu organisasi baik secara vertikal maupun secara
horizontal.
Sistem pelapisan yang dibentuk dengan sengaja dapat
kita lihat misalnya di dalam organisasi pemerintahan , partai politik ,
perusahaan besar , perkumpulan-perkumpulan resmi dan lain-lain yang bisa
disebut organisasi formal
Didalam sistem organisasi yang disusun dengan cara ini
mengandung dua sistem , ialah :
1. Sistem Fungsional
Merupakan pembangunan kerja kepada kedudukan yang
tingkatnya berdampingan dan harus bekerja sama dalam kedudukan yang sederajat.
Misalnya didalam perkantoran ada kerja sama antara kepala-kepala seksi dan
lain-lain
2. Sistem Skalar
Merupakan pembagian kekuasaan menurut tangga atau
jenjang dari bawah ke atas.
Kelemahan didalam sistem ini :
o
Karena organisasi itu sudah diatur sedimikian rupa ,
sehingga sering terjadi kelemahan didalam menyesuaikan dengan perubaha-perubahan
yang terjadi dalam masyarakat;
o
Karena organisasi itu sudah diatur sedimikian rupa ,
sehingga membatasi kemampuan-kemampuan individual yang sebenarnya mampu tetapi
karena kedudukannya yang mengangkat maka tidak memungkinkan untuk mengambil
inisiatif.
D. PEMBEDAAN SISTEM
PELAPISAN MENURUT SIFATNYA
Menurut sifatnya, maka sistem
pelapisan dalam masyarakat dapat dibedakan menjadi :
1. Sistem Pelapisan
Masyarakat yang Tertutup
Di dalam sistem ini pemindahan anggota masyarakat ke
lapisan yang lebih baik ke atas maupun ke bawah tidak mungkin terjadi , kecuali
ada hal-hal yang istimewa,dalam sistem ini satu-satunya jalan untuk dapat masuk
menjadi anggota dari suatu lapisan dalam masyarakat adalah karena kelahiran.
Sistem
ipelapisan tertutup dapat kita temui di India yang mengenal sistem kasta,
berikut kasta-kasta sebagaimana yang kita ketahui:
o
Kasta Brahmana : Yang
merupakan kastanya golongan-golongan pendeta dan merupakan kasta tertinggi.
o
Kasta Kesatria
:Merupakan kasta dari golongan bangsawan dan tentara yang dipandang sebagai
lapisan kedua.
o
Kasta Waisya :
Merupakan kasta dari golongan pedagang yang dipandang sebagai lapisan menengah
ketiga.
o
Kasta Sudra :
Merupakan Kasta dari golongan rakyat jelata.
o
Paria : Goloongan
dari mereka yang tidak mempunyai kasta, contohnya seperti Geladangan, pengemis,
dan sebagainya.
Sistem stratifikasi sosial yang tertutup biasanya juga
kita temui di dalam masyarakt feudal atau masyarakat yang berdasarkan realisme.
2. Sistem Pelapisan
Masyarakat yang Terbuka
Di dala sistem ini setiap anggota masyarakat memiliki
kesempatan untuk ke lapisan yang ada dibawahnya maupun kelapisan yang ada di atasnya.
Sistem ini dapat kita temukan mislanya di dalam
masyarakat di Indonesia sekarang ini. Setiap orang diberi kesempatan untuk
menduduki segala jabatan bila ada kesempatan dan kemampuan untuk itu. Tetapi di
samping itu orang juga dapat turun dari jabatannya bila dia tidak mampu
mempertahankannya.
Dalam hubunganya dena pembangunan masyarakat, sistem
pelapisan masyarakat yang terbuka sangat menguntungkan. Sebab setiap waga
masyarakat diberi kesempatan untuk bersaing dengan yang lain. Sehingga orang
berusaha untuk mengembangkan keekapanya agar dapat meraih kedudukan yang
dicita-citakanya.
E. TEORI TENTANG
PELAPISAN SOSIAL
Bentuk kongkrit daripada Pelapisan
Masyarakat ada beberapa macam, ada smentara sarjana yang meninjau bentuk
pelapisanmasyarakat hanya berdasarsalah satuaspek saja misalnya aspek ekonomi,
politik saja, tetapi sementara itu ada pula yang melihatnya melalui berbagai
ukuran secara komprehensif.
Ada yang membagi pelapisan masyarakt seperti berikut
ini :
1. Masyarakat terdiri dari kelas
atas (upper class) dan kelas bawah (lower class)
2. Masyarakat terdiri dari tiga kelas
ialah kelas atas (upper class) , kelas menengah (middle class) dan kelas bawah
(lower class)
3. Sementara itu ada pula sering
kita dengar : kelas atas (upper class) , kelas menengah (middle class) , kelas
menengah kebawah (lower middle class) dan kelas bawah (lower class)
Pada umumnya golongan yang menduduki kelas bawah
jumlah orangnya lebih banyak daripada kelas menengah dan seterusnya semakin
tinggi golongannya semakin sedikit jumlah orangnya. Dengan demikian sistem
pelapisan masyarakat itu mengikuti bentuk pyramid
Beberapa
sarjana memiliki tekanan yang berbeda-beda d dalam menyampaikan teori-teori
tentang pelapisan masyarakat :
1. Aristoteles
Di dalam tiap-tiap negara terdapat tiga unsur , yaitu
mereka yang kaya sekali , mereka yang melarat sekali dan mereka yang berada
ditengah-tengahnya.
2. Prof. Dr. Selo
Sumardjan dan Soelaiman Soemardi SH. MA
Selama di dalam masyarakat ada sesuatu yang dihargai
olehnya dan setiap masyarakat pasti mempunyai sesuatu yang dihargainya maka
barang itu akan menjadi bibit yang dapat menumbuhkan adanya sistem
berlapis-lapis dalam masyarakat.
3. Vilfredo Pareto
Ada dua kelas yang senantiasa berbeda setiap waktu
yaitu golongan Elite dan golongan Non-Elite , pangkal daripada perbedaan itu
karena ada orang-orang yang memiliki kecakapan, watak , keahlian dan kapasitas
yang berbeda-beda.
4. Gaotano Mosoa
Di dalam seluruh masyarakat dari masyarakat yang
sangat kurang berkembang , sampai kepada masyarakat yang paling maju dan penuh
kekuasaan dua kelas selalu muncul ialah kelas yang pemerintah dan kelas yang
diperintah.
Kelas yang pertama , jumlahnya selalu sedikit
, menjalankan peran-peran politik , monopoli kekuasaan dan menikmati
keuntungan-keuntungan yang dihasilkan oleh kekuasaannya itu.
Sebaliknya yang kedua , ialah kelas yang diperintah ,
jumlahnya lebih banyak , diarahkan dan diatur/diawasi oleh kelas yang pertama
5. Karl Max
Ada dua macam di dalam setiap masyarakat yaitu kelas
yang memilki tanah dan alat-alat produksi lainnya dan kelas yang tidak
mempunyainya dan hanya memiliki tenaga untuk disumbangkan di dalam proses
produksi.
Disimpilkan dari
uraian yang di atas bahwa ukuran atau kriteria yang biasanya dipakai untuk
menggolongkan anggota masyarakatnya ke dalamlapisan-lapisan sosial adalah
sebagai berikut:
o
Ukuran Kekayaan
o
Ukuran Kekuasaan
o
Ukuran Kehormatan
o
Ukuran Ilmu
Pengetahuan
Ukuran-ukuran diatas tidaklah
bersifat limitatif (terbatas), tetapi masih ada ukuran lainya yang
dapatdipergunakan, akantetapi ukuran-ukuran yang menonjol sebagai dasar
timbulnya pelapisan sosial dalam masyarakat. Jadi kriteria pelapisan sosial
pada hakikatnya tergantung pada sistem nilai yang dianut oleh anggota-anggota
masyarakat yang bersangkutan.
2. KESAMAAN DERAJAT
Semua orang mempunyai kesamaan derajat dan dijamin
oleh undang-undang. Kesamaan derajat ini terwujud dalam jaminan hak yang
diberikan dalam berbagai sector kehidupan. Hak inilah yang banyak dikenal
dengan Hak Asasi Manusia
1) PERSAMAAN HAK
Adanya kekuasaan negara seolah-olah hak individu
lambat laun dirasakan sebagai suatu yang mengagganggu , karena dimana kekuasaan
negara itu berkembang terpaksalah ia memasuki lingkungan hak manusia pribadi
dan berkuranglah pula luas batas hak-hak yang dimiliki individu itu.
Mengenai persamaan hak selanjutnya dicantumkan dalam
Pernyataan Sedunia tentang Hak Asasi Manusia atau Universal Declaration of
Human Right (1948) dalam :
Pasal 1 : “Sekalian
orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat
dan
hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan budi dan
hendaknya
bergaul satu sama lain dalam persaudaraan”
Pasal 2 ayat 1 : “Setiap
orang berhak atas semua hak-hak dan kebebasan-
kebebasan
yang tercantum dalam pernyataan ini dengan tak
ada
kecuali apa pun , seperti misalnya bangsa , warna , jenis
kelamin
, bahasa , agama , politik atau pendapat lain , asal mula
kebangsaan
atau kemasyarakatan, milik , kelahiran atapun
kedudukan”
Pasal 7 : “Sekalian
orang adalah sama terhadap undang-undang dan
berhak
atas perlindungan hukum yang sama dengan tak ada
perbedaan.
Sekalipun orang berhak atas perlindungan yang sama
terhadap
setiap perbedaan yang memperkosa pernyataan ini dan
terhadap
segala hasutan yang ditujukan kepada perbedaan
semacam
ini”
2) PERSAMAAN DERAJAT DI
INDONESIA
Dalam
UUD 1945 mengenai hak dan kewajiban yang berkaitan dengan adanya persamaan
derajat dan hak juga tercantum dalam pasal-pasalnya secara jelas
Segala warga negara bersamaa kedudukannya didalam
hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu
dengan tidak ada kecualinya.
3. ELITE dan MASSA
1) Elite
Berbicara masalah elite adalah berbicara masalah
pemimpin.
a. Pengertian
o
Dalam pengertian yang umum
elite itu menunjuk sekolompok orang yang dalam masyarakat menempati kedudukan
tertinggi
o
Dalam arti lebih khusus
dapat diartikan sekolompok orang yang terkemuka di bidang-bidang tertentu dan
khusunya golongan kecil yang memegang kekuasaan
b. Fungsi Elite Dalam
Memegang Strategi
Kelompok minoritas yang mempunyai nillai secara sosial
ini berkembang sejalan dengan perkembangan fungsionaldalam satu masyarakat.
Ada dua kecenderungan yang digunakan untuk menentukan
elite dalam masyarakat yaitu :
1. Menitikberatkan pada fungsi
sosial
2. Pertimbangan-pertimbangan yang
bersifat moral
Menurut parson kedua kecenderungan tersebut melahirkan
dua macam elite yaitu :
I. Elite Internal
Menyangkut integrasi moral serta solidaritas sosial
yang berhubungan dengan perasaan tertentu pada saat tertentu , sopan santun dan
keadaan jiwa
II. Elite Eksternal
Meliputi pencapaian tujuan dan adaptasi , berhubungan
dengan problem-problem yang memperlihatkan sifat yang keras , masyarakat lain
atau masa depan yang tak tentu
Sehubungan dengan fungsi yang harus dijalankan oleh
elite dalam memegang pimpinan ia harus dapat mengatur strategi yang tepat.
Dalam hal ini dapat dibedakan elite pemegang strategi secara garis besar
sebagai berikut :
a. Elite Politik, elite
yang paling berkuasa dalam mencapai tujuan dan biasa disebut elite segala elite
b. Elite Ekonomi ,
Militer , Diplomatik dan Cendekiawan, mereka yang berkuasa atau
mempunyai pengaruh dalam bidang masing-masing
c. Elite Agama , Filsuf
, Pendidik dan Pemuka Masyarakat
d. Elite Artis , Penulis
, Olahragawan dan Tokoh Hiburan, mereka yang dapat memeberikan
kebutuhan psikologis
Elite dari segala elite dapat menjalankan fungsinya
dengan mengajak para elite pemegang strategi di tiap bidangnya untuk bekerja
senaik-baiknya
Kecuali itu dimanapun juga para elite pemegang
strategi tersebut memiliki prinsip yang sama dama menjalankan fungsi pokok
maupun fungsi yang lain.
2) Massa
a. Istilah massa dipergunakan untuk
menunjukkan suatu pengelompokkan kolektif lain yang elementer dan spontan yang
dalam beberapa hal menyerupai crowd tapi yang secara fundamental berbeda
dengannya dalam hal-hal yang lain
Massa diwakili oleh orang-orang yang berperan serta
dalam perilaku massal , mereka yang terbangkitkan minatnya oleh beberapa
peristiwa nasional , mereka yg menyebar di berbagai tempat, mereka yang
berperan serta dalam suatu migrasi dalam arti luas.
b. Hal-hal
yang Penting Dalam Massa
1. Keanggotannya berasal dari semua
lapisan masyarakat atau strata sosial , meliputi orang-orang dari berbagai
kelas yang berbeda;
2. Massa merupakan kelompok yang
anonym atau lebih tepatnya tersusun dari individu-individu yang anonym;
3. Interaksi yang sedikit diantara
anggotanya;
4. Tidak bisa bertindak secara bulat
atau sebagai suatu kesatuan.
c. Peranan
Individu DIdalam Massa penting sekali kenyataan bahswa massa adalah terdiri
indiviud-individu yang menyebar secara luas di berbagai kelompok-kelompok dan
kebudayaan-kebudayaan setempat. Itu berarti bahwa yang menarik perhatian dari
mereka sehingga membentuk massa adalah sesuatu yang terletak diluar kebudayaan
dan kelompok-kelompok setempat.
d. Masyarakat
dan Massa
Massa merupakan gambaran kosong dari suatu masyarakat.
Ia tidak mempunyai organisasi sosial , tidak ada lembaga kebiasaan dan tradisi
, tidak memiliki serangkaian aturan-aturan , tidak terdaoat sentiment-sentimen
kelompok yang terorganisir , tidak ada struktur status peranan serta tidak mempunyai
kepemimpinan yang mantap. Ia semata-mata terdiri dari suatu himpunan dari
individu-individu yang terpisah , terlepas , anonim dan dengan homogeny
sepanjang perilaku massa dilibatkan
e. Hakikat
dan Perilaku Massa
Secara paradoksial bentuk perilaku massa terletak pada
garis aktivitas individual dan bukan pada tindakan bersama. Perilaku massa
sekalipun merupakan suatu himpunan garis-garis tindakan yang individual , bisa
menjadi amat penting artinya.
Suatu partai politik
bisa berantakan atau sebuah badan komersial bisa hancur oleh
pertukaran-pertukaran dalam interest atau teste.
f. Peranan
Elite Terhadap Massa
Kelompok elite penentu lebih banyak berperan dalam mengemban fungsi
sosial. Berikut penentu yang berperan dalam fungsi sosial:
1. Elite
penentu dapat dilihat sebagai lembaga kolektif . Dalam hal ini elite penentu
bertindak sebagai lembaga yang berwenang sebagai pengambil penentu keputusan
akhir, pendukung kekuatan moral bahkan dapat menjadi proto type dari
masyarakatnya.
2. Sebagai lembaga politik , elite
penentu memiliki peranan memajukan kehidupan masyarakatnya dengan memberikan
kerangka pemikiran konsepsional sehingga masa dapat dengan tepat menangani
permasalahan yang dihadapinya.
3. Elite penentu memiliki peranan
moral dan solidaritas kemanusiaan baik dalam pengertian nasionalisme maupun
pengertia universal.
4. Elite penentu lainya
berfungs untuk memenuhi kebutuhan pemuasan hedonik atau pemuasan intrinsik
lainya bagi manusia khususnya terhadap reaksi-reaksi emosional. Sebagai
peranan ekspresif , elite penentu berfungsi untuk memenuhi kebutuhan pemuasan hedonic
atau pemuasan intrinsik lainnya bagi manusia khususnya terhadap reaks-reaksi
emosional
4. PEMBAGIAN PENDAPATAN
1) Komponen Pendapatan
Pada dasarnya dalam kehidupan ekonomi itu , hanya ada
dua kelompok , yaitu rumah tangga produsen dan rumah tangga konsumen. Dalam
rumah tangga produsen dilakukan proses produksi. Pemilik alam (tanah) akan memperoleh sewa. Pemilik
enaga akan mendapatkan upah. Pemilik modal akan mendapatkan bunga dan Pengusaha
(skill) akan memperoleh keuntungan.
2) Perhitungan
Pendapatan
a. Sewa Tanah
Bunga tanah atau sewa tanah adalah bagian dari
pendapatan nasional yang diterima oleh pemilik tanah karena ia telah menyewakan
tanahnya kepada penggarap. Pendapatan yang diterima tersebut hanya semata-mata
karena hak milik dan bukan karena ia ikut serta menyumbang jasanya dalam proses
produksi
b. Upah
Upah adalah bagian dari pendapatan nasional yang
diterima oleh buruh karena menyumbangkan tenaganya dalam proses produksi.
Menurut David Ricardo , upah ini sebagai harga dari tenaga kerja. Upah yang
diterima buruh berupa uang disebut upah nominal, sedangkan barang atau jasa
yang dapat dibelinta dengan upah nominal disebut dengan upah riil.
Sistem pemberian upah dalam perjanjian kerja dapat
berupa upah harian, upah borongan, upah satuan, upah menurut waktu, upah dengan
premi dan sebagainya. Sistem upah yang akan digunakan tergantung daripada
kesepakatan antara pengusaha dan pekerja.
Ahli-ahli agama menganjurkan tingkat upah harus
direnungkan sesuai dengan etika karena menyangkut manusia dengan keluarganya.
Jadi harus disesuaikan dengan keperluan semua anggota dan juga tidak
memberatkan majikan.
c. Bunga Modal
Sewa modal atau bunga adalah bagian dari pendapatan
nasional yang diterima oleh pemilik modal karena telah meminjamkan modalnya
dalam proses produksi. Modal yang ikut serta dalam proses produksi akan
memperbesar hasil produksi.
d. Laba Pengusaha
Pengusaha memperoleh balas jasa yang berupa keuntungan
karena telah meorganisasi factor-faktor produksi dalam melakukan proses
produksi.
Pendapatan pengusaha diperoleh dari beberapa sumber :
apabila semua factor produksi merupakan milik pribadi. Tetapi apabila hanya
sebagian saja yang merupakan hak milik, maka balas jasa factor produksi yang
diterima oleh pengusaha hanyalah balas jasa dari factor yang dimiliknya saja,
sedangkan balas jasa lainnya diserahkan kepada pemilik factor produksi yang
dipergunakan.
3) Distribusi Pendapatan
Setelah dilakukan perhitungan pendapatan nasional,
maka dapat diketahui kgiatan produksi dan sruktur perekonomian suatu negara.
Lebih lanjut akan mempermudah perancang perekonomian negara, karena telah diketahui
bahan-bahan/keterangan mengenai situasi ekonomi baik baik secara makro maupun
sektoral.
Perlu disadar bahwa tingkat income perkapita tinggi
belum berarti bahwa tingkat kemakmuran itu telah merata dan dinikmati oleh
semua warga negara.Persoalan distribusi termasuk yang paling strategis dan peka
dalam masalah pendapatan nasional dan ini menjadi sumber kerusuhan dalam
masyarakat. Terdapat dua cara pendistribusian pendapatan nasional sesuai dengan
sistem perekonomian yang diterapkan
Aliran liberal atau klasik menganggap bahawa sesuai
dengan teori ekonomi liberal , lalu lintas dan arus distribusi pendapatan
nasional dengan sendirinya berlangsung dengan baik dan adil bila diatur oleh
hukum permintaan dan penawaran secara bebas melalui pasar. Jadi berapa jumlah
balas jasa yang diterima faktor-faktor produksi sebaiknya ditentukan oleh hukum
permintaan dan penawaran. Tetapi hal ini menimbulkan ketidakadilan karena
kedudukan buruh lebih lemah dibandingkan dengan pemilik modal yang akhirnya
dalam tawar-menawar mengenai harga tenaga kerja juga akan memperoleh jasa yang
relatif sedikit
Dari hal diatas timbulnya pemikiran bahwa
pendistribusian pendapatan nasional itu perlu campur tangan pemerintah melalui
peraturan-peraturan upah , pajak , sewa dan sebagainya. Pajak mobil
dipergunakan untuk membangun rumah sakit , membangun sekolahan dan sebagainya.
Disini mereka yang berpenghasilan kecil juga akan ikut merasakan / memperoleh
bagian pendapatan nasional yang diatur melalu peraturan pemerintah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar